Sasando berdawai 10 yang kerap disebut sasando gong dipercaya telah melekat dalam kebudayaan Rote (NTT) sejak abad ke-15 dan semula menggunakan tangga nada pentatonik untuk mengiringi tembang tradisional. Seiring derasnya arus kesenian modern, pemain sasando gong semakin sulit ditemukan di pulau Rote.
Namun salah satu bentuk evolusi sasando telah muncul untuk menyelamatkan alat musik ini dari kepunahan total. Seseorang bernaman Arnoldus Edon (almarhum) telah diakui sebagai pemegang hak paten atas inovasi tersebut.
Sasando modern ini menggunakan tangga nada diatonik dan mengusung sejumlah modifikasi. Sasando baru ini dapat mengiringi lagu apapun sejauh kepiawaian pemainnya, termasuk lagu-lagu pop barat. Sejumlah pentas budaya dilaksanakan sampai keluar negeri, pembuatannya telah menjadi industri, dan orang yang mempelajari cara memainkannya kian banyak.
Sasando Pentatonik
Sebutan: sasando gong
Jumlah dawai: 10
Material dawai: tulang daun lontar, kawat rem sepeda atau sepeda motor
Lagu: syair dan tembang tradisional, megandalkan resonasi dawai semata
Sasando Diatonik
Sebutan: sasando elektrik
Jumlah dawai: 24,28,30,32,34 (ada yang 40)
Material dawai: senar gitar
Lagu: modern, resonasi dawai bisa disalurkan ke pengeras suara listrik.
sumber: NGI